Kesibukan yang Membawa Manfaat: Refleksi dari Ground Check DTSEN 2025

Daftar Isi

Dokumentasi DTSEN 2025-Izzazah.id

Halo gaes, udah lama tidak berjumpa ya, terakhir jumpa bulan februari ya? Hehehe Oh iyaa, kali ini aku mau berbagi pengalaman selama Ground Check DTSEN nih. Ada yang tahu belum? Apa itu Ground Check DTSEN?

Seputar Ground Check DTSEN 

Ground Check DTSEN adalah pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional. Bisa juga disebut dengan update data. Jadi, pendamping PKH diberikan tugas dari Kementerian Sosial untuk melakukan survei dan pemutakhiran data/update data sosial ekonomi bagi yang namanya masuk ke dalam data Ground Check.

Dalam hal ini, Kementerian Sosial bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS). Nah, data Ground Check ini diambil dari 3 sumber. Yaitu perpaduan dari DTKS (Data terpadu Kesejahteraan Sosial), data P3KE (Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem) dan data Regsosek (Registrasi Sosial Ekonomi).

Oleh karena itu, kebanyakan data yang masuk Ground Check adalah penerima Bantuan Sosial dari Kementerian Sosial dan P3KE (penerima bantuan pangan/beras 10 kg tahun 2024, penerima bantuan permakanan, penerima kartu Indonesia Sehat) atau yang belum pernah mendapatkan bantuan apapun. 

Jadi, dalam Ground Check itu 39 instrumen pertanyaan dan 3 foto yang harus dicantumkan. Diantaranya pertanyaan terkait kepemilikan aset bergerak (motor, kulkas, mobil dsb) dan kepemilikan aset tidak bergerak (tanah, sawah, hewan ternak, dsb), nomor rekening listrik/ID PLN, serta foto Kartu keluarga, foto rumah tampak dalam, dan foto rumah tampak depan. 

Nah, kalau ada pendamping PKH yang datang ke rumahmu dan menanyakan beberapa pertanyaan, itu bukan untuk mendata PKH ataupun daftar bantuan sosial ya, melainkan untuk melaksanakan pemutakhiran/update data apakah ada perubahan sosial ekonomi dan kependudukan dari target survei tersebut.

Tantangan di Lapangan

Tahu nggak? Melaksanakan pemutakhiran data melalui Ground Check ini mempunyai tantangan tersendiri di lapangan. Diantaranya mencari rumah target survei, salah alamat, salah orang, hingga dianggap penagih hutang. Bahkan, ada beberapa teman saya yang salah bertanya alamat rumah target survei pada ODGJ. Masih ada satu lagi nih, dilakukan pada saat bulan Ramadan/Puasa. Kebayang kan, kayak apa cuacanya pas lagi panas-panasnya. Hehehe Melatih menahan nafsu dari makan minum, serta menahan rasa sabar dan amarah.

Rasanya seru. Bagian yang paling membuang waktu adalah saat kami (Pendamping PKH) dianggap dari bank tertentu yang akan menagih hutang. Sehingga, target survei enggan membukakan pintu meskipun satu keluarga ada di dalam rumah. Sebab, target survei sudah merasa ketakutan sehingga tidak berani untuk memastikan keluar rumah.

Akhirnya, hari berikutnya aku sengaja lewat rumah target survei lagi, pas pintunya terbuka, tanpa berpikir panjang, aku langsung ke rumahnya. Target survei menceritakan bahwa mereka kemarin ketakutan pada penagih hutang dan yang mengetuk pintu kemarin dikira dari Bank *e**r. Padahal sebenarnya yang ketuk pintu beberapa kali dan menunggu sebentar di depan rumah itu aku.

Ada beberapa warga yang beranggapan kalau kami (Pendamping PKH) adalah penagih hutang atau mau menawarkan hutang. Bahkan ada yang takut kami kunjungi karena dikira penipuan. Hal itu sangat bisa dimaklumi karena kami berangkat seorang diri tanpa ditemani Pak RT atau warga setempat dengan modal kertas lusuh hasil coretan ancer-ancer rumah dari Pak RT. Hehehe. Tentunya, atribut kami juga lengkap yah, mulai dari seragam Kemensos, id card, serta surat tugas dari Kementerian Sosial, Dinas Sosial, dan desa yang dikunjungi.

Menjadikan Kesibukan Yang Positif

Disadari atau tidak, Ground Check ini menjadikan kesibukan kita lebih positif. Semenjak ada Ground Check, rutinitas harian lebih tertata. Aktivitas pagi hari, jam 9 mulai berangkat survei, sampai di rumah jam 2 langsung persiapan memasak, membersihkan rumah, dan aktivitas bersama Ziyan. Malam setelah sholat tarawih langsung istirahat. Tidak ada waktu untuk scrolling media sosial yah. Oleh karena itu, aktivitas sehari-hari lebih terpola/tertata. 

Enggak ada lagi nih, pikiran bingung mau ngapain. Hehehe. Selama ada waktu luang, langsung mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci baju, menyetrika, dan lain sebagainya. Jangan sampai menyesal di kemudian hari karena tidak bisa membagi waktu dengan baik. 

Lelah? Iya. Tapi ternyata manfaat dari kesibukan ini menjadikan aku lebih produktif dan fokus pada hal penting. Seperti Eishenhower Matrix yang pernah saya tulis disini. Mengerjakan hal penting/mendesak terlebih dahulu, baru pekerjaan yang tidak mendesak.

Pelajaran Berharga: Menghargai Waktu

Terlihat sepele namun seringkali terabaikan adalah menghargai waktu. Dampaknya enggak terlalu terlihat. Namun, ke depannya dapat mempengaruhi pola hidup/aktivitas kita sehari-hari. Apakah kita mengisi waktu dengan baik? Ataukah kita hanya mengisi waktu dengan scroll media sosial? Terlebih ada banyak pekerjaan rumah atau pekerjaan kantor yang menunggu untuk dikerjakan.

Semakin banyak kita diberi kesibukan, maka waktu akan terasa begitu cepat berlalu. Semakin kita lebih banyak waktu luangnya, kita sering menunda-nunda untuk mengerjakan suatu hal. Terkadang muncul pemikiran seperti ini "Andai tadi menyetrika, pasti tidak ada setrikaan menumpuk" atau "kalau tadi nyuci mah tinggal jemur-jemur" Ada yang pernah berpikir seperti itu nggak? Kalau iya, berarti kita sama. Hehehe

Dari kesibukan kita sehari-hari, mulai muncul kesadaran dalam diri bahwa waktu sangat berharga dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Jangan sampai dikejar waktu ya.

Tips sederhana ala aku untuk menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari

1. Buatlah prioritas harian: Tentukan tugas utama yang harus diselesaikan setiap hari dan fokus pada hal yang paling penting/mendesak sebelum hal-hal yang kurang mendesak.

2. Kurangi distraksi: Batasi penggunaan media sosial atau gadget saat bekerja dan beraktivitas, buatlah waktu khusus untuk mengecek pesan atau media sosial agar tidak mengganggu produktivitas.

3. Manfaatkan waktu luang: Isi dengan aktivitas bermanfaat, bukan menunda-nunda suatu pekerjaan.

4. Gunakan teknik manajemen waktu: Coba terapkan teknik Eisenhower Matrix

5. Mulailah hari dengan baik: Bangun lebih awal dan hindari terburu-buru

6. Evaluasi harian: Tinjau pencapaian dan perbaiki kebiasaan yang menguras/menghabiskan waktu tapi tidak menghasilkan apapun.

Refleksi: Menghargai Waktu, Menghargai Hidup

Sering kali kita merasa bahwa waktu berlalu begitu cepat tanpa hasil yang berarti. Namun, saat menjalani hari-hari penuh kesibukan, aku menyadari bahwa waktu bukan sekadar angka di jam tangan. Ia adalah kesempatan yang terus berjalan, apakah kita memanfaatkannya atau menyia-nyiakannya.

Dalam empat minggu terakhir, setiap menit terasa begitu berharga. Dari mencari rumah warga, bertanya ke Pak RT dan warga sekitar, hingga menghadapi berbagai tantangan di lapangan, aku belajar bahwa menghargai waktu bukan hanya tentang disiplin, tetapi juga tentang makna dari setiap aktivitas yang kita lakukan.

Tanpa sadar, dengan jadwal yang padat, aku hampir tidak memiliki waktu untuk sekadar scrolling media sosial. Ternyata, hidup bisa tetap berjalan tanpa itu- bahkan terasa lebih bermakna dan produktif.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik? Atau justru sering membiarkannya terbuang untuk hal-hal yang tidak mendekatkan kita pada tujuan?

Mari mulai dari hal kecil: mengurangi distraksi, membuat prioritas, dan menjalani hari dengan lebih sadar. Karena pada akhirnya, menghargai waktu adalah cara kita menghargai hidup itu sendiri.

Jadi, sudahkah kita benar-benar menghargai waktu yang kita miliki hari ini?

Posting Komentar